Tuesday, March 25, 2008

Roda terus berputar..

Pernah di saat-saat aku under desperate berat karena ga jua nemuin pembantu idaman, aku ditawari tetangga dekat rumah. Belio bilang ada orang nyari kerja dan sebelumnya pernah kerja di Kalimantan selama sebulan dan balik ke jakarta lagi karena di senggol setrika sama majikan.
Haduh, hati siapa yang gag trenyuh ndengernya. Hari gini masih ada juga orang-orang yang tega nyiksa pembantu. Namun, justru itu yang menyebabkan aku lebih memfilter kriteria yang bakal menjadi orang terdekatku di rumah. Si majikan bisa berlaku begitu, apa karena pembantu yang punya salah atau memang majikannya yang bermasalah.
Pun aku kemudian mengajukan standar, kalo memang orang-orang sekitar komplek, aku lebih prefer kalo mengambil tipe pulang pergi saja. Selain bebas biaya yang lebih besar untuk listrik, tanggungankupun berkurang.
Namun alangkah anehnya, si tetangga baik hati itu malah mengajukan usul,
"gapapalah kalo memang mau datang pagi pulang sore jam limaan, biar tidur di rumah saya aja. Neng gag usah mikir repot!"

Semakin ??
Kok ada ya begitu??

Nilai satu langsung kuambil. Entah mau kunaikann atau kuturunkan standar keiyaanku, sambil kuajukan syarat lagi harus ketemu dulu dengan orangnya sehabis ibu itu pulang ke rumahnya.

Dan akupun segera membuka pintu ketika dua tamu masuk dan akupun ternganga melihat siapa yang datang bersama ibu itu. Rasanya aku mulai merasa wajah ini tidak asing pun ketika dia menjulurkan tangan dan memperkenalkan diri sebagai Amy.

******************************************************************
Singkat cerita dia berkisah tentang runutan kehidupannya dengan terbata-bata.
Bahwa dia ke Kalimantan melalui suatu yayasan di Depok yang menolak permintaannya untuk tetap bisa bekerja di jakarta. Demi uang untuk menghidupi dirinya sendiri setelah lepas dari orang tuanya, ijazah D3 sekretarisnya dilayangkan menjadi sebuah kertas tak berharga lagi saat kepercayaan dirinya tenggelam bersama pandangan masyarakat dan kenyataan bahwa dia tinggal menumpang di rumah dua bujangan yang tidak jelas wataknya, pemabuk, dan jobless.
Jika orang mempertanyakan bagaimana dia bisa terjerumus kesitu, ya karena dia tidak merasa mempunyai pilihan lain. Toh orangtuanya juga yang memberikan pesangon dan mengantarkan sendiri ke rumah itu atas dasar keinginannya sendiri dan harga diri tak lagi ingin menyusahkan bapak ibu lagi, yang telah mengasuhnya sedari kecil melalui tanda tangan notaris 30 tahun lalu.
Ah dunia memang tidak seindah harapan saat dia tau bahwa dia jatuh cinta. Bahwa dia mulai merasakan nikmatnya membina kasih sayang, menaburkan juta rasa yang membuatnya menggila, dan membuatnya terjerumus dalam bayang-bayang kesenangan semalam. Berbuah cinta menjelma menjadi makhluk cantik yang sekarangpun tak pernah dilihatnya lagi.
Semua berakhir, semua berakhir tragis saat sang suami meninggal overdosis.
Dan orangtua menutup pintu kekeluargaan melalui tanda tangan notaris, lagi, bahwa dia bukan lagi siapa-siapa diantara kluarga besar mereka.

************************************************************

Dan pikirannya pun bekerja keras, dahinya berkerut-kerut berusaha mengingat apakah dia benar pernah bermain-main denganku, pernah pula menghafal ayat-ayat Al Quran bersamaku, pernah datang dan mengikuti mimbar kegiatan TPA dan pernah sama-sama kena teguran dari Bu Jalal karena tidak patuh pada titahnya.
Dan, bibirnya bergetar, mata mengernyit... dan keningnya berkeringat menjawab...
"Iya mungkin ya Bu, saya tidak ingat"

*** Ah tidak, andai saja ada kolagen yang bisa memudakan kembali neuron-neuron otak yang telah lama mati suri akibat obat penghilang rasa itu.***

0 comments: